Dampak Virus Korona: Antara Kebijakan Pemerintah dan Sentuhan di Tengah Masyarakat

Dampak virus korona di Indonesia
Ilustrasi mengatasi dampak virus korona di Indonesia/abhotneo

Oleh: Abhotneo Naibaho

Terkini.id, Medan – Dampak sebaran COVID-19 menyisakan hal positif maupun hal yang negatif yang secara sadar atau tidak sadar kita sebagai masyarakat Indonesia sangat merasakan dampaknya yang sangat masif dan luar biasa. Tak kenal status sosial ekonomi, semua mengalami dampaknya, terutama soal perlambatan ekonomi. Hal tersebut berjalan sejak Maret 2020 lalu hingga kini April 2020 bulan kedua kita ‘mengisolasi diri’ di rumah dengan tagar #dirumahsaja.

Jumlah kasus positif terus melonjak. Mirisnya, jumlah kasus yang meninggal dunia terus bertambah. Sementara, jumlah kasus yang dinyatakan telah sembuh ada pertambahan, meski jumlahnya tak sebanding dengan jumlah pasien positif yang terus bertambah hingga kemarin tercatat 3.512 kasus per 10 April 2020. Begitu pun, kita bersyukur dan optimis atas penambahan jumlah yang telah sembuh. Yang jelas, semua pihak telah bekerja keras, utamanya para medis dan masih akan terus bekerja keras dan berjuang di garda terdepan. Seperti kita ketahui bahwa para tenaga medis sudah banyak yang gugur akibat tertular Covid-19 saat kontak langsung dengan pasien.

Para medis sebagai garda terdepan dalam hal penanganan wabah virus korona patut kita beri apresiasi yang sebesar-besarnya. Dedikasi pelayanan mereka patut untuk dicatat dan diperhitungkan. Terbukti, dari pengakuan salah seorang pasien positif korona yang juga adalah seorang Anggota DPRD Sumatera Utara, Aulia Agsa menyebut bahwa, “para medis adalah Pahlawan Negara saat ini” dalam testimoninya paska ditetapkan sembuh secara resmi oleh RSUP H Adam Malik beberapa waktu lalu di Medan.

Dinamika kebijakan dari pemerintah pusat terus berjalan. Dalam mengambil keputusan ‘lockdown‘ atau ‘tidak lockdown‘, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sepertinya tak mau gegabah dan terlihat sangat berhati-hati. Mengantisipasi multi efek jika lockdown ditetapkan menjadi kalkulasi yang cukup matang bagi seorang Jokowi sebagai Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan. Bukankah seperti yang kita ketahui bersama bahwa India mengalami dampak yang cukup rumit akibat ditetapkannya ‘lockdown‘ oleh Perdana Menteri Narendra Modi, 24 Maret 2020 lalu.

Bila dibandingkan dengan India, negara kita masih jauh lebih arif dan bijaksana menyikapi hal ini meski bagi beberapa pihak pemerintah terkesan lamban dalam mengambil sikap dan kebijakan. Ditetapkannya status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sesuai dengan Undang-Undang No 6 Tahun 2018 Tentang Kekarantinaan Kesehatan, dianggap tepat dalam percepatan penangangan COVID-19 sekaligus meminimalisir reaksi masyarakat bila dibandingkan dengan penetapan status dengan istilah ‘lockdown‘.

Mengatasi sekaligus upaya memutus mata rantai penularan virus korona, Presiden Joko Widodo telah menetapkan tambahan belanja dan pembiayaan APBN 2020 sebesar 405,1 triliun bagi beberapa sektor, utamanya bantuan langsung bagi masyarakat berekonomi rendah yang terkena dampaknya. Pemerintah Pusat bersama Pemerintah Daerah diharapkan dapat merealisasikan bantuan sosial dengan tepat sasaran, sesuai dengan dengan data yang valid dan terverifikasi agar praktiknya tidak terjadi tumpang tindih dengan berbagai program pemerintah yang tengah berjalan jauh sebelum virus korona mewabah.

Hal yang tak pernah diduga sebelumnya wabah virus korona telah merontokkan hingga mengakibatkan perlambatan ekonomi di lebih dari 200 negara-negara di dunia. Beberapa pengamat dan pakar ekonomi, situasi ini berpotensi mengakibatkan resesi dunia bak tsunami yang datangnya secara tiba-tiba, menggulung dan menyapu secara massal. Musuh kita bersama yang tak berwujud ini tentu tak mengenal status sosial ekonomi siapapun. Dari rakyat biasa hingga pada pesohor, juga terkena dampaknya, bahkan dikabarkan ada banyak yang telah meninggal dunia.

Tak seorang pun mampu memprediksi kapan wabah ini akan segera berakhir. Kita hanya bisa berjuang dan melawan mencegah sebarannya secara bijaksana dan tetap waspada tanpa pernah bersikap pesimis. Stimulus pemerintah lewat bantuan sosial bagi masyarakat yang telah menerima dan masih akan diberikan bagi yang belum menerima, diharapkan mampu, paling tidak sedikit meringankan beban ekonomi masyarakat dalam situasi saat ini. Sebagai mahkluk sosial, diperlukan sebuah pendekatan ataupun sentuhan sosial dari pemerintah kepada masyarakat terkena dampaknya. Agar dengan demikian, optimisme hidup bisa terus berlanjut dan kembali normal seperti semula.

Indonesia sebagai bangsa yang mewarisi kebiasaan baik dari para leluhurnya, yakni ‘Gotong Royong’ tak boleh kehilangan semangat dan akal untuk terus berjuang secara bergotong-royong menanggulangi wabah virus korona ini. Pemerintah bersama masyarakat harus terus bahu-membahu memutus mata rantai penularan virus korona dengan tetap menjaga kesehatan diri dan lingkungan, mengikuti semua protokol perlindungan diri sesuai standar WHO yang diteruskan ke tiap negara-negara. Percayalah, selama masih ada harapan, Indonesia pasti bisa melawan COVID-19.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Wibawa Sosok Risma Cegah Virus Korona

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar